Previous Next

IAKN Kupang (Kemenag) — Rangkaian kegiatan Expo Moderasi Beragama Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang terus bergulir dengan menghadirkan diskusi yang mendalam dan inspiratif. Setelah sukses dengan sesi pertama, IAKN Kupang kembali menggelar talk show sesi kedua di Lippo Plaza Kupang, yang menghadirkan empat narasumber strategis pada Jumat (21/11/2025).

Diskusi ini masih dalam naungan tema besar expo, yaitu “Rukun dalam Perbedaan, Sejahtera dalam Kebersamaan”, dengan fokus menggali nilai-nilai kearifan lokal dan strategi pendidikan dalam merawat keberagaman.
Hadir sebagai pembicara pertama, Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Agama (BLAM) Makassar, Dr. H. Saprillah, membawakan materi berjudul “Moderasi Beragama Sebagai Paradigma Etika Sosial dan Kewargaan”. Dalam paparannya, beliau memberikan apresiasi tinggi terhadap Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang konsisten memiliki Indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) yang tinggi bahkan tertinggi dalam beberapa tahun.

Beliau juga menekankan bahwa moderasi beragama merupakan nilai asli yang digali dari masyarakat Indonesia sendiri. Menurutnya, ada tiga faktor kunci yang harus dikondisikan untuk menjaga kerukunan. “Kunci kerukunan beragama ada tiga faktor: social engagement (keterlibatan sosial), lokalitas, dan peran pemerintah,” jelasnya. Beliau juga mendorong adanya tindakan kreatif untuk terus menginternalisasikan semangat moderasi serta pentingnya mengumandangkan pendidikan inklusif.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Ambrosius Kodo, S.Sos., M.M., menegaskan posisi NTT sebagai barometer kerukunan nasional melalui materi “NTT: Wajah Keindonesiaan yang Rukun dan Damai”.
“NTT adalah narasi optimis tentang keberagaman. Ini adalah tempat hidup bersama semua anak bangsa, di sini semua orang dari berbagai latar belakang diterima,” tegas Ambrosius.

Beliau mengingatkan bahwa keberagaman bukanlah sekat yang memisahkan. “Mari jangan saling curiga, mari bangun ketulusan,” ajaknya. Ambrosius juga menyoroti peran sentral tokoh agama di NTT yang dinilai sangat moderat dalam menyampaikan pesan keagamaan. Menutup sesi, beliau mengingatkan sejarah penting bangsa, “Bung Karno menemukan Pancasila di NTT, ini adalah motivasi bagi kita untuk menjaga harmoni.”

Dari perspektif pendidikan Kristen, Wakil Ketua Majelis Pendidikan Kristen Wilayah NTT, Dr. Ir. Semuel M. Littik, M.Sc., M.M., membawakan materi “Menuju NTT Sejahtera dan Damai: Kolaborasi, Kepedulian, dan Spirit Moderasi”. Beliau menekankan bahwa status NTT sebagai daerah yang damai harus diarusutamakan dalam dunia pendidikan.
“Sekolah-sekolah punya andil yang penting dalam menginternalisasikan nilai-nilai moderasi beragama kepada siswa,” ungkap Dr. Semuel, menekankan pentingnya peran lembaga pendidikan dalam membentuk karakter siswa yang toleran sejak dini.

Sesi diskusi dilengkapi oleh paparan Kepala Bidang Bimbingan Masyarakat (Kabid Bimas) Kristen Kanwil Kemenag NTT, Yakobus Oktavianus, S.Sos., M.M. Beliau mengajak seluruh peserta untuk mensyukuri perbedaan melalui materinya.
“Keberagaman dan perbedaan adalah anugerah yang harus kita syukuri dan rayakan bersama. Kerukunanlah yang mengawal peradaban kita,” tegas beliau. Beliau juga menegaskan kembali komitmen bahwa moderasi beragama harus terus diwacanakan dan diaktualisasikan secara nyata di tengah masyarakat.

Antusiasme pengunjung Lippo Plaza Kupang terlihat tinggi selama sesi berlangsung, membuktikan bahwa isu kerukunan dan toleransi menjadi perhatian penting bagi masyarakat NTT. Kegiatan ini merupakan bagian dari Expo Moderasi Beragama IAKN Kupang yang berlangsung sampai 22 November 2025, yang bertujuan memperkokoh kerukunan hidup umat beragama.

Penulis: Yoel Umbu Runga Riti
editor : Merling Messakh
Administrator: Yermi Solukh

Silakan Ikuti IAKN Kupang di Social Media