IAKN Kupang (Kemenag RI) – Program Studi Pastoral Konseling, Fakultas Ilmu Sosial Keagamaan Kristen (FISKK), Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang sukses menyelenggarakan kuliah tamu bertema “Konseling dalam Konteks Bencana Alam”. Kegiatan ini berlangsung pada pukul 07.30 hingga 10.00 WITA di ruang kuliah program studi setempat dengan suasana yang interaktif dan penuh antusiasme.
Kuliah tamu ini menghadirkan Ibu Ekawati Lili, M.Th. sebagai narasumber utama, dengan dipandu oleh moderator Kaka Adina Perni. Sebanyak 20 peserta yang terdiri dari mahasiswa turut ambil bagian dalam kegiatan ini, menunjukkan minat yang besar terhadap isu konseling dalam situasi krisis, khususnya bencana alam.
Salah satu peserta yang turut aktif dalam diskusi adalah Dekan FISKK, Ibu Liliya Watengterah, M.Th., Ph.D. Dalam sesi tanya jawab, beliau memberikan kontribusi pemikiran yang menekankan pentingnya kesiapan mental dan spiritual bagi seorang konselor sebelum terjun langsung ke lokasi bencana. Hal ini dinilai krusial agar konselor mampu memberikan pendampingan yang tepat dan tidak justru mengalami kelelahan emosional.
Dalam pemaparannya, Ibu Ekawati Lili menegaskan bahwa konseling di daerah bencana memiliki karakteristik yang berbeda dengan konseling klinis pada umumnya. Pendekatan yang digunakan harus lebih kontekstual, dengan fokus pada stabilitas emosional, pemulihan trauma, serta pendampingan spiritual yang empatik bagi para penyintas.
Ia juga menjelaskan bahwa kehadiran konselor di tengah situasi bencana bukan hanya sebagai pemberi solusi, tetapi sebagai pendamping yang mampu menghadirkan rasa aman dan harapan. Oleh karena itu, sensitivitas, empati, dan kemampuan membaca situasi menjadi kompetensi utama yang harus dimiliki oleh seorang konselor.
Melalui materi yang disampaikan secara komprehensif, para mahasiswa dibekali berbagai strategi pendampingan psikologis bagi korban bencana. Hal ini diharapkan dapat membantu mereka dalam memberikan layanan konseling yang efektif, khususnya dalam upaya pemulihan trauma di tengah masyarakat terdampak.
Kegiatan ini juga menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa untuk memahami peran strategis konselor dalam konteks kemanusiaan. Konseling tidak hanya dipahami sebagai praktik profesional, tetapi juga sebagai panggilan pelayanan yang menyentuh aspek kemanusiaan secara holistik.
Menutup sesi kuliah tamu, Ibu Ekawati Lili menyampaikan pesan yang menguatkan, bahwa “Konseling dalam konteks bencana bukan sekadar berbicara, melainkan hadir secara utuh untuk memulihkan harapan di tengah situasi yang sulit.” Pesan ini menjadi penegasan bahwa kehadiran konselor adalah wujud nyata kasih dan kepedulian di tengah penderitaan.*
Penulis: Jendriadi Banoet & Merling Messakh
Administrator: Yermi Solukh
Foto: Istimewa



