Previous Next

IAKN Kupang (Kemenag) — Indonesia kembali menorehkan kebanggaan di kancah internasional melalui sosok Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., Menteri Agama RI yang juga adalah ulama moderat yang dinilai layak dianugerahi Nobel Perdamaian atas dedikasinya dalam membangun harmoni lintas iman dan menebarkan nilai-nilai kemanusiaan universal.

Sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Nasaruddin Umar tidak hanya dikenal karena pandangan keagamaannya yang inklusif, tetapi juga karena langkah konkret dalam mengubah rumah ibadah terbesar di Asia Tenggara itu menjadi pusat peradaban moderasi beragama. Istiqlal di bawah kepemimpinannya menjelma menjadi ruang dialog dan persaudaraan — tempat tokoh lintas agama, diplomat, dan akademisi dunia berjumpa dalam semangat saling menghargai.

Dalam berbagai kesempatan internasional dari Vatikan hingga PBB, dari Universitas Al-Azhar hingga forum antaragama dunia, Nasaruddin membawa pesan tunggal: bahwa agama hadir untuk menghadirkan kasih, bukan konflik. Ia menegaskan bahwa Islam rahmatan lil-‘alamin adalah wajah sejati Islam yang menebarkan kedamaian bagi seluruh ciptaan.

Salah satu tonggak bersejarah kiprahnya ialah Deklarasi Istiqlal yang digagas saat kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia tahun 2024. Deklarasi tersebut menjadi simbol diplomasi spiritual yang mempertemukan dua tradisi besar dunia dalam bingkai kasih dan kemanusiaan. Dunia memandang langkah ini sebagai bukti bahwa Indonesia memiliki model dialog antaragama yang orisinal dan damai.

Berbagai pihak, termasuk kalangan akademisi dan tokoh agama, menilai bahwa pengusulan Nasaruddin Umar untuk Nobel Perdamaian bukan hanya bentuk penghormatan terhadap pribadi beliau, tetapi juga pengakuan atas Indonesia sebagai bangsa yang berkomitmen pada pluralisme dan moderasi beragama.

Bagi komunitas akademik di Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang, figur seperti Nasaruddin Umar adalah inspirasi lintas batas iman. Ia menjadi teladan bagi dunia pendidikan tinggi dalam menanamkan nilai etika kemanusiaan, dialog antariman, dan kepemimpinan berbasis kasih.

“Keteladanan beliau meneguhkan bahwa perdamaian tidak lahir dari wacana, melainkan dari keberanian untuk membangun jembatan di atas perbedaan,” ujar Rektor IAKN Kupang, Dr. I Made Suardana, M.Th dalam refleksinya.

Dalam konteks kehidupan bangsa dan pendidikan teologi lintas iman, perjalanan Nasaruddin Umar menjadi cermin bahwa moderasi bukan kompromi, melainkan komitmen untuk menjaga kemanusiaan. Bila Nobel Perdamaian adalah penghargaan bagi mereka yang menyalakan terang di tengah dunia yang retak, maka langkah dan gagasan Nasaruddin Umar telah lama menyalakan terang itu dari Indonesia, untuk dunia.*

Sumber : uinsu.ac.id
Penulis : Merling Messakh
Administrator : Yermi Solukh

Silakan Ikuti IAKN Kupang di Social Media