IAKN Kupang (Kemenag RI) – Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang melalui Fakultas Ilmu Sosial Keagamaan Kristen (FISKK) kembali menunjukkan komitmennya dalam penguatan karakter dan kesehatan mental mahasiswa melalui kegiatan Bedah Buku Broken Strings, karya Aurelie Moeremans, yang dilaksanakan pada Jumat, 13 Maret 2026, pukul 14.00 WITA hingga selesai.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Sosial Keagamaan Kristen, Laboratorium FISKK, serta Satgas Mentality Building IAKN Kupang, dengan melibatkan mahasiswa sebagai peserta utama. Bedah buku ini menjadi ruang reflektif dan edukatif untuk memahami realitas kehidupan remaja, khususnya terkait pencarian jati diri, relasi interpersonal, serta risiko kekerasan dalam hubungan.
Hadir sebagai pemateri, Devi Sheldena, M.Psi., Psikolog, yang membahas buku dari perspektif psikologi, serta Debby Yunita Mada, M.Th., yang mengulasnya dari sudut pandang pastoral konseling.
Dalam pemaparannya, Devi Sheldena menekankan bahwa masa remaja merupakan fase krusial dalam pencarian identitas diri. Pada tahap ini, individu cenderung memiliki kebutuhan tinggi akan validasi dari lingkungan sosial, sementara kemampuan dalam membuat pertimbangan belum sepenuhnya matang. Oleh karena itu, peran orang tua sangat penting dalam memberikan pendampingan dan kontrol, terutama dalam relasi dengan lawan jenis.
Ia juga mengingatkan bahwa kekerasan seksual dapat terjadi di berbagai ruang, termasuk dalam lingkungan yang dianggap aman seperti rumah. Selain itu, relasi pacaran yang tidak sehat atau manipulatif kerap ditandai dengan adanya upaya pasangan menciptakan ketergantungan emosional, serta kecenderungan menyalahkan korban untuk membenarkan perilaku yang keliru.
Sementara itu, Debby Yunita Mada dalam perspektif pastoral konseling mengungkapkan bahwa toxic relationship seringkali dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kondisi fatherless akibat keterbatasan ekonomi, serta kurangnya pendampingan keluarga saat individu mengalami perpindahan lingkungan hidup.
Ia juga menyoroti adanya fenomena kekerasan spiritual, di mana pelaku menggunakan ayat-ayat Alkitab untuk membenarkan tindakan kekerasan, baik secara verbal maupun nonverbal, dalam relasi pacaran maupun pernikahan.
Lebih lanjut, ia menegaskan pentingnya membangun relasi yang sehat berdasarkan nilai kasih sebagaimana tertulis dalam 1 Korintus 13:4–8, yang menekankan bahwa kasih itu sabar, murah hati, tidak egois, dan tidak menyakiti. Menurutnya, keberanian untuk mengakhiri hubungan yang tidak sehat merupakan bentuk nyata dari penghargaan terhadap diri sendiri (self-love).
Melalui kegiatan ini, IAKN Kupang berharap mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman teoretis, tetapi juga mampu mengaplikasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Bedah buku ini menjadi bagian dari upaya kampus dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga sehat secara mental, matang secara emosional, dan kuat secara spiritual.*
Sumber: Panitia
Penulis: Merling Messakh
Administrator: Yermi Solukh



