IAKN Kupang (Kemenag RI) — Sesi kedua Workshop Beragama Berdampak yang digelar Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang, Rabu, 26 Agustus 2026, di Lobby Pascasarjana IAKN Kupang, membekali peserta dengan kerangka berpikir untuk merawat identitas lokal Nusa Tenggara Timur (NTT) sekaligus membawanya ke percakapan global. Materi bertajuk “Identitas Lokal dalam Perspektif Global” disampaikan Pdt. Ira Desiawanti Mangililo, Ph.D., Kepala Program Studi Magister Teologi Program Pascasarjana UKAW Kupang.
Membuka kegiatan pada pagi hari, Rektor IAKN Kupang, Dr. I Made Suardana, M.Th., menegaskan pentingnya perguruan tinggi mengambil peran dalam merawat dan mengembangkan identitas lokal NTT. Menurutnya, kekayaan budaya dan nilai-nilai lokal yang dimiliki NTT tidak cukup hanya dijaga sebagai warisan, tetapi perlu dikaji, dikembangkan, dan dihadirkan dalam konteks kehidupan masa kini.
Rektor mengatakan bahwa semangat “Beragama Berdampak” harus diwujudkan melalui tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Dalam konteks tersebut, identitas lokal menjadi salah satu ruang penting yang perlu mendapatkan perhatian, terutama karena perubahan zaman dan globalisasi menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi keberlangsungan budaya lokal.
“Beragama berdampak bukan hanya bagaimana kita berbicara tentang agama, tetapi bagaimana agama itu hadir dalam kehidupan dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Karena itu, identitas lokal dan kekayaan budaya yang kita miliki perlu menjadi bagian dari perhatian dan tanggung jawab kita bersama,” ujar Dr. I Made Suardana dalam sambutannya.
Ia menambahkan bahwa IAKN Kupang memiliki posisi strategis sebagai perguruan tinggi keagamaan untuk mengembangkan berbagai kajian yang berangkat dari konteks lokal. Menurutnya, identitas dan kekayaan budaya NTT dapat menjadi sumber pengetahuan yang tidak hanya relevan bagi masyarakat lokal, tetapi juga dapat memberikan kontribusi pada tingkat nasional bahkan global.
“NTT memiliki kekayaan budaya, tradisi, nilai-nilai sosial, dan pengetahuan lokal yang luar biasa. Tantangannya adalah bagaimana kekayaan ini tidak berhenti menjadi cerita lokal, tetapi dapat kita kaji secara akademik, kita kembangkan, dan kita bawa ke ruang yang lebih luas,” katanya.
Memasuki sesi materi, Pdt. Ira Desiawanti Mangililo, Ph.D., menegaskan bahwa identitas lokal dan identitas Kristen tidak perlu dibangun secara defensif terhadap globalisasi. Menurutnya, identitas yang kuat adalah identitas yang berakar, kritis, terbuka, dan transformatif, sementara globalisasi tidak hanya berwajah ancaman, melainkan juga menjadi ruang revitalisasi dan kontribusi.
Ia memaparkan bahwa identitas bukanlah sesuatu yang selesai dan tidak berubah, melainkan proses yang terus dinegosiasikan melalui sejarah, memori, dan cara komunitas merepresentasikan dirinya. Karena itu, pelestarian budaya tidak identik dengan pembekuan budaya. Perjumpaan antara yang lokal dan yang global, lanjutnya, dapat melahirkan bentuk-bentuk budaya baru tanpa memutus akar historisnya.
Pdt. Ira juga menguraikan dua sisi globalisasi. Di satu sisi terdapat risiko homogenisasi budaya, komersialisasi tradisi, dan marginalisasi bahasa lokal yang menjauhkan generasi muda dari memori komunitasnya. Di sisi lain, digitalisasi, pendidikan, ekonomi kreatif, pariwisata, dan jejaring diaspora membuka peluang bagi komunitas lokal untuk memasuki globalisasi sebagai subjek yang menentukan sendiri bagaimana budayanya direpresentasikan.
Dalam konteks NTT, ia mencontohkan bahasa daerah, musik dan alat musik tradisional, motif tenun, serta nilai gotong royong sebagai kekayaan yang dapat dihadirkan melalui media dan teknologi masa kini tanpa kehilangan makna aslinya. Ia mengingatkan bahwa kontekstualisasi bukan berarti mencampuradukkan iman, sehingga nilai-nilai lokal tetap perlu diuji secara kritis.
Pada bagian akhir, Pdt. Ira menawarkan lima strategi penguatan identitas, yaitu pendidikan yang mengintegrasikan iman, budaya, dan literasi global; dokumentasi serta digitalisasi kekayaan budaya; dialog yang bergerak dari seremonial menuju kerja bersama; pengembangan teologi kontekstual dengan perguruan tinggi sebagai pusat riset; serta pelibatan generasi muda sebagai produsen gagasan, bukan sekadar objek pembinaan.
Rangkaian sesi kedua ditutup dengan penandatanganan dokumen Implementation Arrangement (IA) antara Pdt. Ira Desiawanti Mangililo, Ph.D., dan program-program studi di lingkungan IAKN Kupang. Dokumen tersebut menjadi dasar kerja sama akademik lanjutan yang mencakup pengembangan riset, pengabdian kepada masyarakat, dan penguatan pusat studi.
Workshop Beragama Berdampak berlangsung dua hari secara hybrid, 26–27 Agustus 2026. Setelah pelaksanaan kegiatan secara tatap muka pada hari pertama, rangkaian workshop akan dilanjutkan pada Kamis, 27 Agustus 2026 secara daring melalui Zoom Meeting dengan tiga materi lanjutan.
Melalui sesi ini, IAKN Kupang mendorong agar identitas lokal NTT tidak hanya dipandang sebagai warisan yang perlu dilestarikan, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan, kreativitas, dan kekuatan yang dapat dikembangkan untuk menjawab tantangan zaman serta berkontribusi dalam percakapan global.
Penulis: Yoel Umbu
Editor: Merling Messakh
Administrator: Yermi Solukh


