Previous Next

IAKN Kupang (Kemenag RI) – Sesi kelima Workshop Beragama Berdampak yang digelar Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang, Kamis, 27 Agustus 2026, membekali peserta dengan cara sederhana menjalankan moderasi beragama dalam keseharian. Materi berjudul Melihat Diri, Memahami Sesama disampaikan Dr. H. Saprillah, M.Si., Kepala BDK Denpasar Kementerian Agama RI, yang hadir langsung di IAKN Kupang dengan moderator Merling T.L.L.C. Messakh, M.Pd. Ia menegaskan bahwa gerakan menghargai perbedaan tidak berhenti pada cara memandang orang lain, melainkan dimulai dari cara seseorang melihat dirinya sendiri.

Dr. Saprillah menjelaskan dua pijakan awal, yaitu self-awareness atau kesadaran diri berupa kemampuan menyadari bagaimana pikiran, pengalaman masa lalu, dan prasangka bawaan bekerja, serta other-awareness atau kesadaran sesama berupa kebiasaan mengamati orang lain tanpa buru-buru menghakimi. Menurutnya, manusia selalu berjalan di atas dua realitas yang berbeda, yakni realitas internal berupa keyakinan dan ingatan pribadi, dan realitas eksternal berupa peristiwa serta fakta objektif di lapangan.

Ia mengingatkan bahwa peta yang tersimpan di kepala seseorang tentang kelompok lain belum tentu akurat. Peta tersebut berguna sebagai panduan, tetapi bila tidak dimutakhirkan justru menyesatkan, sehingga apa yang diyakini tentang orang lain dapat sepenuhnya tidak menggambarkan realitas mereka yang sebenarnya.

Dalam pemaparannya, ia juga menguraikan bagaimana prasangka terbentuk sangat cepat melalui rangkaian data, makna, asumsi, kesimpulan, hingga keyakinan dan tindakan, seringkali hanya dalam hitungan detik. Satu peristiwa tunggal, lanjutnya, kerap berubah menjadi label bagi semua orang melalui pola melihat, berasumsi, lalu menyimpulkan, dan label itu bertahan lama karena dianggap fakta.

Untuk memutus rantai tersebut, peserta diajak berhenti sejenak dan menguji diri dengan sejumlah pertanyaan reflektif, antara lain apakah yang sedang dilihat benar-benar objektif, apakah kesimpulan yang diambil memiliki bukti memadai, serta apakah yang muncul adalah cerita atau justru perasaan sendiri terhadap orang lain. Ia menambahkan bahwa konflik umumnya terjadi bukan karena orang kurang berbicara, melainkan karena tidak benar-benar saling mendengarkan.

Materi ditutup dengan dua sikap utama. Sikap pertama, see your self, yakni mengenali peta di kepala sendiri berupa pengalaman, informasi, dan prasangka bawaan, disertai kesediaan mengakui bahwa keyakinan pribadi bisa saja keliru. Sikap kedua, watch one other, yakni mengamati sesama dengan perhatian penuh tanpa menempelkan label, melihat konteks kehidupan mereka secara utuh, serta memberi kesempatan kepada orang lain untuk menceritakan pengalamannya sendiri.

Workshop Beragama Berdampak berlangsung dua hari secara hybrid, 26–27 Agustus 2026, dengan sebagian sesi digelar luring di Lobby Pascasarjana IAKN Kupang dan sebagian lainnya secara daring. Seluruh rangkaian diarahkan pada penguatan pusat studi serta budaya kerja kolektif di lingkungan IAKN Kupang.

Penulis: Yoel Umbu Runga Riti
Editor: Merling Messakh
Administrator: Yermi Solukh

Silakan Ikuti IAKN Kupang di Social Media