IAKN Kupang (Kemenag RI) – Sesi keempat Workshop Beragama Berdampak yang digelar Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang, Kamis, 27 Agustus 2026, secara daring melalui Zoom Meeting, membekali peserta dengan kerangka menjadikan kampus sebagai penggerak perubahan sosial yang manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat. Materi bertajuk Kampus sebagai Agen Perubahan Sosial disampaikan Dr. Abbas Langaji, M.Ag., Rektor UIN Palopo dengan moderator Yusmina Eliseba Hauoni, Ph.D.
Dalam pemaparannya, Abbas Langaji menempatkan Tri Dharma Perguruan Tinggi sebagai fondasi ekosistem perubahan. Pendidikan membentuk karakter dan kompetensi mahasiswa sebagai calon agen perubahan, penelitian melahirkan gagasan dan solusi atas persoalan nyata, sedangkan pengabdian mewujudkan ilmu secara praktis untuk mendampingi UMKM, komunitas, dan menjaga kelestarian lingkungan. Ketiganya digerakkan oleh sinergi tiga komponen kampus, yaitu mahasiswa, dosen dan tenaga kependidikan, serta sarana dan fasilitas pendukung.
Ia menyebut kampus sebagai miniatur masyarakat karena di dalamnya berkumpul beragam latar belakang suku, budaya, dan pemikiran yang berinteraksi setiap hari. Dari kondisi itu tumbuh empat peran ideal kampus, yakni pusat ilmu, pusat inovasi, pusat budaya, dan episentrum perubahan sosial.
Menurutnya, kampus dikatakan benar-benar hidup bukan sekadar ketika ruang kelas terisi, melainkan ketika ilmu bergerak menembus dinding kampus dan menyentuh kehidupan masyarakat. Indikatornya meliputi diskusi kritis yang terus hidup antara dosen dan mahasiswa, kepekaan terhadap persoalan bangsa, kegiatan ekstrakurikuler yang berkolaborasi dengan pemuda dan organisasi masyarakat, serta kontribusi nyata yang dirasakan warga.
Abbas Langaji juga menempatkan kampus sebagai konektor strategis yang menjembatani dunia gagasan, dunia industri, pemerintah, dan masyarakat. Agar peran itu berdampak, ia mendorong transformasi Tri Dharma melalui pembaruan kurikulum secara berkelanjutan, riset yang diarahkan menjawab masalah pembangunan nyata, dan pengabdian yang manfaatnya langsung dirasakan komunitas. Aksi nyata kampus, lanjutnya, dapat menyebar ke lima ranah, yakni budaya, ekonomi, sosial, lingkungan, dan kebijakan publik.
Ia menyampaikan dua pesan kunci dalam pemaparannya, yaitu bahwa kampus tidak mencetak pekerja melainkan pemikir yang menciptakan pekerjaan, serta bahwa bangsa akan kehilangan arah bila kampus memilih diam. Mengutip Daniel Defoe tentang arloji pribadi yang rusak dan jam kota yang keliru, ia menegaskan kampus adalah jam kota peradaban yang tidak boleh keliru dan tidak boleh bungkam, sebab kekeliruannya akan menyesatkan arah seluruh bangsa.
Pada bagian penutup, ia mengajak peserta memulai perubahan melalui tiga langkah sederhana, yaitu mulai dari diri sendiri, mulai dari hal kecil, dan mulai dari sekarang.
Workshop Beragama Berdampak berlangsung dua hari secara hybrid, 26–27 Agustus 2026, dengan sebagian sesi digelar luring di Lobby Pascasarjana IAKN Kupang dan sebagian lainnya secara daring. Seluruh rangkaian diarahkan pada penguatan pusat studi serta budaya kerja kolektif di lingkungan IAKN Kupang.
Penulis: Yoel Umbu Runga Riti
Editor: Merling Messakh
Administrator: Yermi Solukh



