Previous Next

IAKN Kupang (Kemenag RI) – Sesi ketiga Workshop Beragama Berdampak yang diselenggarakan Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang, Kamis, 27 Agustus 2026, membekali peserta dengan langkah praktis untuk menghadirkan kampus yang aman, ramah difabel, dan bebas diskriminasi. Materi berjudul Merancang Kampus sebagai Ruang Aman, Ramah Difabel, dan Tanpa Diskriminasi disampaikan Dr. Masfiyatul Asriyah, M.Pd. dari IAI Daarul Fatah Lampung secara daring melalui Zoom Meeting.

Dalam pemaparannya, narasumber menegaskan bahwa inklusivitas di IAKN Kupang berpijak pada landasan teologis berupa aktualisasi nilai kasih yang memberdayakan sesama manusia, sekaligus landasan hukum Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Dosen, menurutnya, berperan penting menjamin hak pendidikan bagi semua mahasiswa demi terbangunnya ekosistem kampus yang memanusiakan manusia.

Ia memetakan empat hambatan yang kerap ditemui di lingkungan kampus, yaitu hambatan fisik, hambatan sikap, hambatan institusional, dan hambatan akademik. Pemetaan tersebut menjadi dasar bagi setiap unit kerja untuk mengenali persoalan aksesibilitas dan keamanan di lingkungannya masing-masing.

Terkait kampus aman dari diskriminasi dan kekerasan, narasumber menjelaskan bahwa rasa aman berarti bebas dari intimidasi, perundungan, dan kekerasan seksual. Ia mendorong dosen menghentikan candaan yang merendahkan kondisi fisik atau mental mahasiswa, memastikan tersedianya kanal pelaporan yang rahasia, aman, dan responsif, serta memberikan kesempatan organisasi dan prestasi yang setara bagi seluruh mahasiswa.

Pada aspek aksesibilitas fisik, ia menyoroti pentingnya audit terhadap fasilitas kampus, mobilitas mandiri bagi warga kampus dengan disabilitas, ketersediaan akses informasi, serta fasilitas umum yang ramah bagi semua pengguna. Sementara pada aspek kurikulum, ia memperkenalkan prinsip Universal Design for Learning melalui variasi bahan ajar dalam bentuk teks, audio, maupun visual digital, penyesuaian waktu atau format ujian, dan penataan interaksi kelas agar mahasiswa difabel duduk di posisi strategis serta terlibat aktif dalam diskusi kelompok.

Narasumber juga membagikan strategi komunikasi empatis bagi dosen, antara lain penggunaan people-first language dengan menyebut “mahasiswa dengan disabilitas” alih-alih istilah yang merendahkan, bertanya langsung mengenai bentuk dukungan yang dibutuhkan tanpa berasumsi, menjaga kerahasiaan riwayat medis mahasiswa, serta membuka ruang bimbingan akademik yang adaptif dan suportif.

Sebagai tindak lanjut, ia menawarkan rencana aksi nyata bagi dosen IAKN Kupang yang mencakup identifikasi ragam kebutuhan mahasiswa pada awal semester, modifikasi Rencana Pembelajaran Semester agar lebih inklusif, kolaborasi internal untuk mendorong pembentukan Unit Layanan Disabilitas, serta keteladanan dosen dalam menyebarkan budaya saling menghargai.

Workshop Beragama Berdampak berlangsung dua hari secara hybrid, 26–27 Agustus 2026. Hari kedua dilaksanakan secara daring dengan tiga materi yang seluruhnya diarahkan pada penguatan pusat studi dan budaya kerja kolektif di IAKN Kupang.

Penulis: Yoel Umbu Runga Riti
Editor: Merling Messakh
Administrator: Yermi Solukh

Silakan Ikuti IAKN Kupang di Social Media