IAKN Kupang (Kemenag) — Dalam sambutan Gubernur NTT yang diwakilkan oleh Staf Ahli Bidang Kesejahteraan Masyarakat, Adi Mandala, M.Si., pada Wisuda ke-7 Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang, pemerintah menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam merespons tantangan-tantangan sosial yang kompleks di Nusa Tenggara Timur.
Dengan gaya retoris yang hangat dan penuh refleksi, Adi Mandala menyampaikan bahwa IAKN Kupang sebagai lembaga pendidikan keagamaan memiliki tanggung jawab moral dan intelektual untuk menjadi “jurumudi” dalam mengarungi tantangan zaman yang disebutnya sebagai “bahasa gelombang” — metafora untuk isu-isu sosial seperti kemiskinan, stunting, dan ketimpangan fiskal yang masih tinggi di wilayah NTT.
“Apalah artinya hidup yang indah dengan layar terkembang jika jurumudinya tak mampu membaca bahasa gelombang,” ujar Adi Mandala mengutip pepatah Melayu, seraya menyatakan bahwa peran pimpinan dan sivitas akademika IAKN sangat vital dalam memandu arah pembangunan daerah melalui pendidikan yang membumi.
Ia menyoroti beberapa masalah aktual, seperti angka kemiskinan yang masih di kisaran 19,04%, prevalensi stunting sebesar 3,75% dari sekitar 65.000 anak, serta tingginya ketergantungan fiskal daerah terhadap APBN. Dalam situasi ini, perguruan tinggi menurutnya tidak bisa hanya menjadi menara gading, tetapi harus menjadi motor solusi sosial melalui kerja sama aktif dengan pemerintah.
Adi Mandala juga menanggapi aspirasi IAKN terkait kebutuhan rusunawa bagi mahasiswa, pelebaran jalan sekitar kampus, serta akses beasiswa. Ia menyatakan siap memfasilitasi dialog lebih lanjut antara kampus dan pemerintah guna mencari solusi nyata, dan mendorong agar proposal resmi segera disampaikan.
Kepada para wisudawan, ia memberi pesan mendalam tentang makna kehidupan pasca-wisuda: “Ilmu itu hanya dua: ilmu pengetahuan di kampus, dan ilmu kehidupan di masyarakat. Keseimbangan antara keduanya akan menghasilkan lulusan yang bukan hanya cerdas, tetapi juga bijaksana dan toleran.”
Menutup sambutannya, Adi Mandala menegaskan pentingnya kasih dan kerendahan hati sebagai nilai luhur yang diajarkan dalam iman Kristiani dan menjadi dasar dari toleransi sejati. Ia mengajak semua lulusan untuk menjadikan nilai-nilai tersebut sebagai bekal dalam membangun NTT dan Indonesia secara lebih luas.
“Kita tidak boleh berhenti di atas mimbar gereja. Firman Tuhan harus turun menjadi nyata dalam kehidupan umat,” pungkasnya.*
Penulis : Devrialdo Pa’at
Editor: Merling Messakh
Administrator: Yermi Solukh



