Previous Next

IAKN Kupang (Kemenag RI) – Di tengah derasnya arus media sosial yang membentuk gaya hidup remaja masa kini, Program Studi Pendidikan Penyuluh Agama, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Kristen (FKIPK) Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang menghadirkan pendekatan berbeda melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di SMTK Setia Sumba pada 27 April hingga 1 Mei 2026.

Mengusung tema “Digital Glow Up: Penguatan Etika Bermedia Sosial dan Prestasi Nyata melalui Pendekatan Psiko-Edukasi Kristen bagi Generasi Z”, kegiatan ini tidak sekadar berbicara tentang media sosial, tetapi mengajak para siswa memahami siapa diri mereka sebenarnya di dunia digital.

Kegiatan PKM ini dilaksanakan oleh dua dosen Program Studi Pendidikan Penyuluh Agama, yakni Merling T.L.L.C. Messakh, M.Pd dan Kurniawati Aseleo, M.Pd.K serta dua mahasiswa , yakni Haryandi Alexander Bunga dan Rizky Ariyantho Tanono dengan pendekatan edukatif, reflektif, dan interaktif. Antusiasme siswa terlihat sejak awal kegiatan, terutama ketika berbagai realitas media sosial yang dekat dengan kehidupan mereka mulai dibahas secara terbuka.

“Pernah hapus postingan karena sedikit like? Pernah edit foto supaya terlihat lebih keren? Atau merasa minder setelah melihat postingan orang lain?” Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu menjadi pembuka yang langsung menghidupkan suasana seminar. Para siswa diajak menyadari bahwa banyak remaja hari ini sedang berjuang membangun identitas di balik layar media sosial.

Materi utama dibawakan oleh Merling T.L.L.C. Messakh, M.Pd., dengan moderator Kurniawati Aseleo. Dalam pemaparannya yang bertajuk “Siapa Aku di Media Sosial? Model CERMIN: Etika Kristen dalam Pembentukan Identitas Digital Remaja”, Merling memperkenalkan konsep reflektif bernama CERMIN sebagai pendekatan etika digital berbasis nilai-nilai Kristen.

Menurutnya, generasi muda saat ini menghadapi krisis identitas digital yang semakin kompleks. Remaja tidak lagi hanya membentuk identitas melalui keluarga, sekolah, atau lingkungan sosial, tetapi juga melalui foto, caption, story, komentar, dan validasi di media sosial. Ia mengutip teori Erik Erikson tentang Identity vs Role Confusion yang menjelaskan bahwa masa remaja adalah fase pencarian jati diri.

“Kadang kita tidak sedang menjadi diri sendiri, tetapi menjadi versi yang ingin dilihat orang lain,” ungkap Merling dalam presentasinya. Ia menjelaskan bahwa banyak remaja mengalami fake self, ketergantungan pada validasi digital, perbandingan sosial, hingga identitas yang terpecah antara kehidupan nyata dan dunia maya.

Melalui Model CERMIN, para siswa diajak melihat diri mereka secara lebih jujur dan utuh. CERMIN terdiri dari enam nilai utama, yakni Citra Diri, Evaluasi Diri, Relasi Sehat, Makna Hidup, Integritas, dan Nilai Kristiani. Setiap poin dikaitkan dengan realitas penggunaan media sosial sehari-hari, mulai dari kebiasaan mencari pengakuan, budaya viral, komentar toxic, hingga pentingnya hidup autentik sebagai orang percaya.

Merling menjelaskan bahwa konsep ini merupakan pengembangan dari model sebelumnya yang bernama OTAK (Olah Pikiran sebelum Posting, Teliti Informasi, Arif dalam Menilai dan Konsisten dengan iman) dan telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah. Jika model OTAK berfokus pada etika tindakan berdasarkan pemikiran Aristoteles, maka Model CERMIN lebih menekankan pada etika identitas digital yang dipengaruhi oleh teori Erik Erikson dan Anthony Giddens.

“Kalau OTAK mengajarkan kita berpikir sebelum bertindak, maka CERMIN mengajarkan kita mengenal siapa diri kita sebenarnya,” jelasnya di hadapan peserta seminar.

Dalam perspektif etika Kristen, para siswa juga diingatkan bahwa identitas manusia tidak ditentukan oleh jumlah pengikut, likes, atau popularitas di media sosial, melainkan oleh nilai diri sebagai gambar Allah (Imago Dei). “Jangan ukur nilai dirimu dari layar, tetapi dari siapa kamu di hadapan Tuhan,” menjadi salah satu pesan yang paling mendapat perhatian peserta seminar.

Kepala SMTK Setia Sumba, Mawida, menyampaikan apresiasi kepada tim PKM FKIPK IAKN Kupang atas kegiatan yang dinilai sangat relevan dengan kehidupan generasi muda saat ini. Menurutnya, seminar tersebut membantu siswa memahami bahwa media sosial bukan sekadar ruang hiburan, tetapi juga ruang pembentukan karakter.

“Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi siswa kami, terutama dalam membentuk etika bermedia sosial yang sehat dan bertanggung jawab. Kami berharap kerja sama seperti ini terus berlanjut,” ujarnya.

Sebagai bagian dari penguatan kerja sama, kegiatan PKM ditutup dengan penandatanganan Implementation Arrangement (IA) antara Program Studi Pendidikan Penyuluh Agama FKIPK IAKN Kupang dan SMTK Setia Sumba. Kerja sama ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam pengembangan pendidikan, pelayanan, serta pembinaan karakter generasi muda Kristen di era digital.

Melalui kegiatan ini, FKIPK IAKN Kupang kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan yang tidak hanya menekankan aspek akademik, tetapi juga menyentuh pembentukan identitas, moral, dan spiritual generasi muda agar mampu menjadi pribadi yang cerdas, autentik, dan berdampak positif di tengah dunia digital yang terus berkembang.*

Sumber : Tim PKM
Penulis: Merling Messakh
Administrator: Yermi Solukh

Silakan Ikuti IAKN Kupang di Social Media