Previous Next

IAKN Kupang (Kemenag) — Ibadah kampus IAKN Kupang pada hari itu terasa berbeda. Suasana khidmat memenuhi ruangan saat Dekan Fakultas Seni Keagamaan Kristen (FSKK), Relin Yosi Huka, M.Sn, menyampaikan khotbah bertema “Memuji dengan Roh dan Akal Budi” pada Senin (23/02/2026). Berdasarkan 1 Korintus 14:12, beliau mengajak seluruh jemaat untuk menyadari bahwa pujian bukanlah aktivitas rutin, tetapi sebuah persembahan kudus yang menuntut kualitas terbaik.

Dekan FSKK membuka khotbah dengan menyinggung fenomena yang sering terjadi dalam pelayanan musik. Banyak orang terlibat dalam ibadah, tetapi tidak semua mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh. Kita hadir bukan untuk mengisi waktu, tegasnya, melainkan mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan. Rasul Paulus menetapkan standar yang tinggi bagi jemaat Korintus, dan standar itu tetap relevan bagi kita.

Beliau kemudian menyampaikan lima penekanan penting yang menjadi dasar pelayanan musik yang berkualitas:
1. Bernyanyi Harus dengan Kualitas Terbaik
Dekan FSKK menekankan bahwa pujian tidak boleh dilakukan secara asal. Lirik harus dipahami maknanya, terutama dari sisi teologis, sehingga setiap nyanyian menjadi pesan iman yang hidup.
2. Kualitas Suara Adalah Persembahan
Dalam dunia seni, persiapan adalah kunci. Penyanyi dipanggil untuk berlatih, menjaga kualitas vokal, memahami dinamika dan tempo, serta mengolah interpretasi.
3. Ketulusan Hati
Teknik yang tinggi tidak akan berarti tanpa hati yang murni. Pujian yang sejati lahir dari ketulusan, dari keinginan untuk memuliakan Tuhan, bukan untuk tampil di hadapan manusia.
4. Pemusik Harus Bermain dengan Akal Budi
Mengutip Mazmur 33, beliau mengingatkan bahwa alat musik harus dimainkan dengan baik-baik. Mengatur volume, tempo, dan keseimbangan bunyi adalah bentuk kebijaksanaan, agar musik mengiringi ibadah dengan harmonis dan tidak mengalahkan suara jemaat.
5. Jemaat adalah Paduan Suara Terbesar
Dekan FSKK menegaskan bahwa ibadah bukan pertunjukan. Jemaat bukan sekadar pendengar, tetapi pelaku penyembahan. Suara jemaat adalah paduan suara terbesar yang membawa kemuliaan bagi Tuhan, dan harmoni itu harus tercermin juga dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam lingkungan kerja.

Di bagian akhir khotbah, beliau menyampaikan kalimat yang menggugah dan meninggalkan kesan mendalam:
“Memuji Tuhan adalah persembahan, dan persembahan harus terbaik tanpa cacat. Ketika pemusik bermain dengan mahir, penyanyi memahami makna, dan jemaat menyambut dengan iman, hadirat Tuhan turun dengan luar biasa. Bernyanyi dengan merdu adalah seni, tetapi bernyanyi dengan mengerti makna adalah penyembahan.”

Melalui khotbah ini, Dekan FSKK kembali menegaskan bahwa pelayanan musik bukan hanya soal kemampuan teknis, tetapi juga tentang spiritualitas, integritas, dan komitmen untuk mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan.*

Penulis: Philby Tafuakan
Editor: Merling Messakh
Administrator: Yermi Solukh

Silakan Ikuti IAKN Kupang di Social Media