IAKN Kupang (Kemenag) — Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang mengawali pekan kerja dengan kegiatan apel pagi yang dilanjutkan dengan ibadah awal minggu pada Senin, (8/9/2025). Bertempat di halaman utama kampus, kegiatan rutin ini diikuti oleh seluruh civitas akademika sebagai sarana konsolidasi kerja sekaligus penguatan spiritual.
Kegiatan diawali dengan apel pagi yang dipimpin oleh Dekan Fakultas Seni dan Ilmu Keagamaan Kristen (FSKK), Relin Huka, M.Sn. Dalam amanatnya, Dekan FSKK menekankan poin-poin penting yang menjadi fokus perhatian dalam waktu dekat. Secara garis besar, amanat tersebut mencakup tiga area utama. Pertama, terkait akademik, beliau mendorong agar monitoring dan evaluasi (monev) persiapan mengajar, pelaksanaan evaluasi semester genap, serta penuntasan beban dan jadwal mengajar dapat dioptimalkan.
Kedua, dalam hal kelembagaan, Dekan FSKK mengingatkan pentingnya optimalisasi dalam pengusulan program kerja untuk pagu anggaran 2026 serta memaksimalkan kinerja panitia-panitia strategis, seperti Dies Natalis, Wisuda, PPL, dan PKL.
Ketiga, sebagai landasan kerja bersama, beliau mengajak seluruh civitas akademika untuk terus bekerja sama demi kemajuan IAKN Kupang. “Mari kita terus meningkatkan kualitas kerja kita dengan takut akan Tuhan,” tegasnya.
Setelah apel pagi, kegiatan dilanjutkan dengan ibadah awal minggu yang dipimpin oleh Pdt. Agustina Mone-Ha’e, S.Th. Mengangkat tema “Panggilan Kristen untuk Murah Hati” yang didasarkan pada Lukas 6:36, ibadah ini menjadi momen refleksi yang mendalam.
Dalam renungannya, Pdt. Agustina menyampaikan bahwa panggilan iman Kristen adalah untuk meniru karakter Ilahi, yang sering kali bertentangan dengan norma dunia. “Yesus mengajarkan kita hal-hal yang jauh dari normatif, seperti mengasihi musuh dan memberi tanpa mengharapkan imbalan,” ujarnya.
Beliau mengingatkan civitas IAKN Kupang untuk waspada terhadap roh duniawi seperti individualisme, hedonisme, dan materialisme yang dapat mengikis kemurahan hati. Menurutnya, kemurahan hati yang sejati (memberi dengan tulus) adalah buah dari simpati, empati, dan kesediaan untuk melepaskan kepahitan.
“Hukum dunia selalu memberi dengan pertimbangan untung rugi, tetapi kita harus meneladani kemurahan hati Tuhan. Belas kasih dan kemurahan hati adalah pembeda kita dari dunia dan menjadi tanda bahwa Roh Kudus ada dalam hati kita,” tutupnya.
Penulis: Yoel Umbu Runga Riti
Editor : Merling Messakh
Foto : Fredy Duka
Administrator : Yermi Solukh



