Previous Next

IAKN Kupang (Kemenag RI) – Workshop dan Expo Moderasi Beragama di Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang berlanjut dengan sesi panel pada Selasa (27/10/2026). Sesi ini menghadirkan Kepala Balai Diklat Keagamaan Denpasar, Dr. H. Saprillah, M.Si., dan Instruktur Nasional Moderasi Beragama, apt. Alwiyah Nur Syarif, S.Farm., M.Si dengan moderator Lodia Amelia Banik, M.Hum.
Kedua narasumber membahas penguatan sumber daya manusia (SDM) dan kelembagaan sebagai penggerak moderasi beragama, serta kepedulian terhadap sesama sebagai jalan kemanusiaan dan kerukunan. Panel ini membekali sivitas akademika dengan cara praktis merawat kerukunan, baik melalui penguatan lembaga maupun cara memperlakukan sesama dalam kehidupan sehari-hari.

Saprillah, yang membawakan materi “Penguatan Kapasitas SDM dan Kelembagaan sebagai Penggerak Moderasi Beragama di Wilayah Majemuk”, menjelaskan tiga sasaran utama penguatan moderasi beragama. Sasaran pertama adalah SDM, yang mencakup aparatur, penyuluh agama, pendidik, penghulu, widyaiswara, dan tokoh masyarakat. Sasaran kedua adalah kelembagaan, yang meliputi tata kelola, jejaring lintas sektor, dan pemanfaatan teknologi. Sasaran ketiga adalah hadirnya penggerak moderasi yang mampu mengelola persoalan keagamaan di masyarakat majemuk secara terukur dan berkelanjutan.

Ia kemudian menguraikan delapan pilar penguatan moderasi beragama yang dikelompokkan dalam empat penggerak, yaitu kompetensi SDM, tata kelola dan kolaborasi, respons sosial dan digitalisasi, serta pengukuran dampak. Saprillah menekankan bahwa pengembangan kompetensi SDM tidak boleh diseragamkan, tetapi disesuaikan dengan pemetaan keragaman agama, potensi konflik, kerentanan sosial, kebutuhan masyarakat, dan karakteristik lokal di setiap wilayah kerja.

Menurutnya, pelatihan moderasi beragama tidak cukup berhenti pada teori di ruang kelas. Pelatihan perlu dilanjutkan dengan praktik lapangan, pendampingan, dan evaluasi penerapan kompetensi dalam tugas sehari-hari. Ia juga mendorong agar moderasi beragama terintegrasi dalam perencanaan program, penganggaran, standar pelayanan, dan sistem evaluasi kinerja lembaga. Penanganan persoalan keagamaan, katanya, perlu bergeser dari pola reaktif setelah konflik terjadi menjadi pola proaktif melalui deteksi dini dan pemetaan kerentanan wilayah.

Melengkapi paparan tersebut, Alwiyah membawakan materi “Sehat Bersama, Peduli Sesama: Kesehatan sebagai Jalan Kemanusiaan dan Kerukunan”. Ia menegaskan bahwa martabat manusia harus didahulukan di atas prasangka. Menurutnya, keberagaman agama, suku, bahasa, usia, dan kondisi ekonomi bukanlah masalah, melainkan ketidakadilanlah yang melukai. Ia juga mengingatkan bahaya mayoritarianisme, yaitu anggapan bahwa jumlah atau kuasa mayoritas boleh menentukan siapa yang layak didengar.

Ia menguraikan empat nilai yang perlu dihidupi dalam relasi dengan sesama, yakni keadilan, empati, tanggung jawab, dan solidaritas. Hidup berdampingan, katanya, bukan sekadar tinggal berdekatan, tetapi memberi ruang, hak, dan rasa aman bagi orang lain.
Alwiyah juga menjelaskan bahwa moderasi beragama bukan mencampuradukkan keyakinan, melainkan cara beragama yang menjaga martabat, kedamaian, dan kehidupan bersama. Ia mengingatkan peserta tentang empat indikator moderasi beragama, yaitu komitmen kebangsaan, antikekerasan, toleransi, dan akomodatif terhadap budaya. Keempat indikator itu, menurutnya, menjadi kerangka refleksi diri, bukan alat untuk menilai iman orang lain.

Ia turut menyoroti ruang digital, tempat konten viral dapat memicu prasangka, label, dan saling curiga. Untuk itu, ia mengajak peserta membiasakan langkah jeda, periksa, pastikan, dan bagikan dengan tanggung jawab, serta meluruskan hoaks dengan bukti, bukan hinaan. Alwiyah kemudian mengajak peserta mempraktikkan nilai-nilai tersebut di empat ruang, yaitu pendidikan, ruang digital, kebijakan dan layanan kampus, serta kegiatan sosial lintas komunitas seperti kerja bakti, donor darah, dan dukungan bencana.

Di akhir paparannya, Alwiyah menegaskan bahwa kerukunan tidak cukup dibicarakan, tetapi harus terasa dalam cara merawat sesama manusia. Ia pun mengajak setiap peserta menentukan satu tindakan nyata yang dapat dimulai hari itu juga.
Rangkaian kegiatan hari pertama dilanjutkan dengan Sesi Berbagi Praktik Baik I yang menghadirkan pengalaman mahasiswa dari lapangan.

Penulis: Yoel Umbu Runga Riti
Editor: Merling Messakh
Administrator: Yermi Solukh

Silakan Ikuti IAKN Kupang di Social Media