Oleh: Merling Messakh
Dosen Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang
Di saat banyak perguruan tinggi di Indonesia masih memperbincangkan inklusivitas sebatas kebijakan tertulis, Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang telah menghidupkannya dalam tindakan nyata. Kampus kecil di ujung timur Indonesia ini membuktikan bahwa pendidikan sejati bukan soal ukuran institusi, tetapi soal keberanian membuka ruang bagi setiap manusia untuk bertumbuh sesuai kodratnya.
Salah satu wajah nyata dari semangat itu adalah Marta Derlianti Atonis, mahasiswi Program Studi Pendidikan Kristen Anak Usia Dini (PKAUD), yang lahir di Desa Oenaunu, Kabupaten Kupang. Dengan keterbatasan fisik yang dimilikinya, Marta menghadapi dunia akademik yang sering kali menantang. Namun seperti kata Carl Rogers, pelopor teori pendidikan humanistik,
“The only person who is educated is the one who has learned how to learn and change.”
Rogers menekankan bahwa pendidikan sejati adalah proses menjadi manusia yang mampu berkembang secara utuh (self-actualizing person). Bagi Rogers, pendidik bukan sekadar pengajar, tetapi fasilitator yang menciptakan lingkungan empatik, hangat, dan penuh penerimaan tanpa syarat (unconditional positive regard). Dalam konteks ini, pengalaman Marta menunjukkan bagaimana IAKN Kupang mewujudkan prinsip-prinsip humanistik itu: kampus menjadi ruang aman bagi proses belajar yang menghargai martabat setiap individu.
Selama kuliah, Marta pernah gagal dan hampir menyerah. Namun dorongan dari orang tuanya menjadi sumber kekuatan moral:
“Sekolah yang sungguh-sungguh, supaya hidupmu berubah dan bisa menolong orang lain.”
Pesan sederhana ini mencerminkan pentingnya dukungan lingkungan mikro sebagaimana dijelaskan dalam teori ekologi Bronfenbrenner, di mana keluarga berperan sebagai fondasi utama pembentukan karakter dan resiliensi individu.
Pada 22 Oktober 2025, Marta akhirnya mengenakan toga kebanggaan dalam Wisuda Angkatan VIII IAKN Kupang. Skripsinya berjudul “Peran Orangtua dalam Menanamkan Nilai Moral dan Agama pada Anak Usia 4–6 Tahun di PAUD Oepleo, Desa Oenaunu” — topik yang merefleksikan perjalanan hidupnya sendiri: bahwa pendidikan moral dan iman dimulai dari rumah, di mana kasih dan bimbingan orangtua membentuk dasar kepribadian anak.
Sejalan dengan pemikiran Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed, pendidikan adalah proses pembebasan — membebaskan manusia dari keterbatasan, stigma, dan rasa tidak mampu. Marta telah menafsirkan ulang keterbatasannya menjadi sumber kekuatan spiritual dan eksistensial.
Kini, setelah menyandang gelar sarjana, Marta bercita-cita melanjutkan studi ke jenjang magister dan menjadi dosen. Keterbatasan ekonomi memang menjadi tantangan, tetapi ia berpegang pada prinsip dari Roma 12:12:
“Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa.”
Rektor IAKN Kupang, Dr. I Made Suardana, M.Th., menyebut kisah Marta sebagai bukti hidup dari komitmen kampus terhadap pendidikan inklusif dan humanis:
“IAKN Kupang berkomitmen menjadi ruang aman bagi semua mahasiswa tanpa memandang kondisi fisik, sosial, atau latar belakang. Kampus harus menjadi rumah bersama, tempat kasih dan penghargaan tumbuh berdampingan.”
Pendekatan IAKN Kupang ini sejalan dengan teori humanistik Rogers yang menempatkan manusia sebagai pusat proses pendidikan (learner-centered education). Mahasiswa dipandang bukan sebagai objek transfer ilmu, tetapi sebagai pribadi yang memiliki potensi, nilai, dan harga diri yang harus dihargai secara penuh.
Kisah Marta Atonis menegaskan bahwa pendidikan inklusif bukan hanya tentang fasilitas, tetapi tentang sikap kemanusiaan. Seperti kata Ki Hajar Dewantara,
“Pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.”
Dari Kota Kupang, pesan besar itu bergema ke seluruh Indonesia: keterbatasan bukanlah akhir, melainkan awal dari karya yang bermakna. Marta Atonis telah membuktikan bahwa pendidikan humanistik yang berjiwa inklusif adalah wajah paling indah dari iman dan kemanusiaan yang hidup.



