Previous Next

IAKN Kupang (Kemenag RI) – Workshop dan Expo Moderasi Beragama di Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang berlanjut dengan sesi panel Workshop Sesi 3 dan Sesi 4 pada Rabu (28/10/2026). Narasumbernya adalah Kepala Balai Diklat Keagamaan Denpasar, Dr. H. Saprillah, M.Si., dan Instruktur Nasional Moderasi Beragama, apt. Alwiyah Nur Syarif, S.Farm., M.Si. Panel ini membekali peserta dengan langkah konkret untuk mewujudkan nilai moderasi beragama dan kepedulian terhadap lingkungan dalam aksi nyata, mulai dari diri sendiri hingga masyarakat luas.

Dr. Saprillah membawakan materi “Dari Ikrar ke Aksi: Relawan Moderasi Beragama sebagai Penjaga Kerukunan di Akar Rumput”. Ia menjelaskan bahwa moderasi beragama menjaga harmoni dalam relasi antarmanusia, sedangkan ekoteologi memulihkan relasi spiritual antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Menurutnya, gerakan berawal dari kesadaran diri, kesadaran spasial, dan kesadaran spiritual. Kesadaran itu tumbuh dari menyadari masalah, membangun niat menjadi bagian dari solusi, hingga mengambil peran untuk bertindak.

Dr. Saprillah kemudian memaparkan empat pilar strategi bagi mahasiswa. Pilar pertama adalah ideologisasi, yaitu menjadikan moderasi beragama dan ekoteologi sebagai prinsip dasar dalam mengambil keputusan. Pilar kedua adalah reproduksi, yaitu melahirkan karya nyata seperti tulisan jurnalistik, karya seni dan budaya, kelompok praktik baik, dan gerakan menanam pohon. Pilar ketiga adalah agensi, yaitu memperluas gerakan dari diri sendiri ke keluarga, kampus, hingga masyarakat luas. Pilar keempat adalah aliansi, yaitu membangun jejaring karena gerakan sebesar ini tidak dapat dikerjakan sendiri.

Melengkapi paparan tersebut, Alwiyah membawakan materi “Ekoteologi dalam Keseharian: Gaya Hidup Hijau, Pengelolaan Limbah Rumah Tangga, dan Obat yang Bijak”. Ia menegaskan bahwa krisis ekologi bukan hanya persoalan alam, tetapi juga menyangkut nilai, perilaku, dan keadilan. Menurutnya, ekoteologi adalah iman yang diwujudkan dalam kepedulian, sehingga tidak berhenti pada doa dan wacana, tetapi tampak dalam tindakan sehari-hari.

Alwiyah juga memaparkan bahwa 56,82 persen sampah berasal dari rumah tangga. Karena itu, pengelolaan sampah perlu dimulai dari rumah, antara lain dengan memilah sampah, membuat kompos, dan mengurangi barang sekali pakai. Ia mengenalkan lima prinsip zero waste, yaitu refuse, reduce, reuse, recycle, dan rot. Ia juga menjelaskan cara membuang obat kedaluwarsa dengan benar agar tidak mencemari lingkungan.

Di akhir panel, peserta mendapat tantangan kelompok untuk merumuskan akar masalah, solusi yang realistis, dan indikator keberhasilan, sekaligus mengubah satu tindakan kecil menjadi kebiasaan bersama.

Penulis: Yoel Umbu Runga Riti
Editor: Merling Messakh
Administrator: Yermi Solukh

Silakan Ikuti IAKN Kupang di Social Media