Previous Next

IAKN Kupang (Kemenag RI) — Keserakahan dapat membuat manusia lupa bersyukur dan pada akhirnya membawa kepada kehancuran. Pesan tersebut disampaikan Dr. Osian Orjumi Moru, M.Si., saat menyampaikan firman Tuhan dalam ibadat di lingkungan Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang, Senin (24/8/2026).

Mengangkat bacaan Bilangan 11:31–35 tentang burung puyuh, Dr. Osian mengajak civitas akademika IAKN Kupang merefleksikan bahaya keinginan yang tidak terkendali. Kisah bangsa Israel di padang gurun menjadi gambaran tentang bagaimana manusia dapat melupakan pemeliharaan Tuhan ketika keinginan berubah menjadi keserakahan.

Bangsa Israel telah mengalami pertolongan Tuhan ketika dibebaskan dari perbudakan di Mesir. Dalam perjalanan menuju tanah yang dijanjikan, Tuhan terus memelihara mereka. Namun, ketika mulai merasa tidak puas, mereka menuntut daging dan menginginkan lebih dari apa yang telah disediakan Tuhan.

Tuhan kemudian mendatangkan burung puyuh dalam jumlah yang sangat banyak. Bangsa Israel mengumpulkannya sepanjang hari dan malam. Namun, ketika daging itu masih berada di mulut mereka, murka Tuhan bangkit dan tulah menimpa mereka. Tempat itu kemudian disebut Kibrot-Taawa, yang berarti kuburan orang-orang yang bernafsu rakus.

Menurut Dr. Osian, kisah tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama bukan sekadar keinginan untuk memiliki sesuatu, melainkan ketidakmampuan manusia untuk merasa cukup.

“Keserakahan terjadi ketika manusia tidak pernah merasa cukup, terus menginginkan lebih, dan tidak lagi mampu bersyukur atas apa yang telah Tuhan berikan.”

Keserakahan, lanjutnya, dapat muncul ketika seseorang telah memperoleh keberhasilan. Jabatan, harta, kesempatan, maupun berbagai pencapaian yang semula diterima sebagai berkat dapat berubah menjadi alasan untuk terus mengejar lebih banyak.

Apa yang awalnya merupakan kebutuhan dapat berkembang menjadi keinginan. Jika tidak dikendalikan, keinginan tersebut dapat berubah menjadi keserakahan.

Belajar Hidup dalam Kecukupan

Prinsip hidup dalam kecukupan juga tercermin dalam Keluaran 16:18, ketika bangsa Israel mengumpulkan manna sesuai dengan kebutuhannya.

“Orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan.”

Ayat tersebut, menurut Dr. Osian, mengajarkan pentingnya hidup dalam kecukupan, keadilan, dan rasa syukur. Manusia perlu belajar membedakan antara apa yang dibutuhkan dan apa yang sekadar diinginkan.

“Ambillah yang dibutuhkan, bukan semua yang diinginkan. Ambillah yang menjadi bagianmu, bukan milik orang lain,” pesannya.

Dalam kehidupan sehari-hari, keserakahan dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari keinginan terhadap harta, jabatan, kekuasaan, penghargaan, hingga kenikmatan duniawi. Ketika keinginan tersebut tidak terkendali, manusia dapat melupakan bahwa segala sesuatu yang dimiliki merupakan kepercayaan Tuhan.

Jabatan adalah kepercayaan. Harta adalah kepercayaan. Keluarga adalah kepercayaan. Begitu pula setiap kesempatan dan keberhasilan yang diterima. Semuanya perlu dikelola secara bertanggung jawab dan pada akhirnya dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.

Karena itu, kisah Kibrot-Taawa menjadi peringatan agar manusia tidak membiarkan keserakahan menguasai kehidupan. Firman tersebut mengajak civitas akademika IAKN Kupang untuk belajar merasa cukup, memelihara rasa syukur, mengendalikan keinginan, serta menggunakan setiap berkat dan kepercayaan Tuhan dengan penuh tanggung jawab.

Jangan sampai apa yang kita kejar justru menjadi Kibrot-Taawa bagi kehidupan kita.

Penulis: Philby Tafuakan
Editor: Merling Messakh
Foto: Kenneth
Administrator: Yermi Solukh

Silakan Ikuti IAKN Kupang di Social Media