Previous Next

IAKN Kupang (Kemenag RI) — Dosen Program Studi Pendidikan Penyuluh Agama Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang, Merling T.L.L.C. Messakh, M.Pd., melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) melalui penyuluhan dalam Seminar Pengembangan Prodi Pendidikan Penyuluhan Agama yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Pendidikan Kristen IAKN Tarutung, Kamis (24/9/2026).

Mengusung topik “Menjadi Penyuluh Agama Kristen yang Relevan di Era Digital”, kegiatan dilaksanakan secara hybrid dengan pusat kegiatan di Aula Mini IAKN Tarutung. Merling berperan sebagai narasumber dan menyampaikan materi secara daring kepada peserta.

Kegiatan PkM tersebut melibatkan mahasiswa IAKN Kupang, mahasiswa IAKN Tarutung, serta penyuluh agama dari Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) dan Kabupaten Rote Ndao. Kehadiran peserta dari berbagai latar belakang tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat wawasan dan kompetensi penyuluhan agama Kristen dalam merespons perubahan kehidupan masyarakat di era digital.

Dalam materinya, Merling mengajak peserta memahami berbagai perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat, terutama dalam cara memperoleh informasi, belajar, berkomunikasi, membangun identitas, hingga mencari pertolongan. Kondisi tersebut mendorong penyuluh agama untuk mengembangkan pendekatan pelayanan yang kontekstual dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Menurut Merling, perkembangan teknologi tidak sekadar menghadirkan perangkat dan media baru, tetapi turut memengaruhi cara manusia menjalani kehidupan. Ruang digital kini menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari, termasuk untuk belajar, bekerja, membangun relasi, membentuk komunitas, hingga mencari jawaban atas berbagai persoalan kehidupan.

Dalam situasi tersebut, penyuluh agama tidak cukup hanya berperan sebagai pemberi informasi. Masyarakat juga membutuhkan pendamping yang mampu membantu memilah informasi, memahami persoalan, dan menemukan makna.
“Manusia tidak hanya membutuhkan informasi. Manusia membutuhkan pemaknaan,” menjadi salah satu gagasan yang ditekankan dalam penyuluhan tersebut.

Penyuluh Digital Tidak Harus Viral
Dalam pemaparannya, Merling menekankan bahwa menjadi penyuluh di era digital bukan berarti harus menjadi influencer. Kehadiran penyuluh di ruang digital bukan semata-mata untuk mengejar viralitas, melainkan untuk menghadirkan pelayanan yang relevan, dapat dipercaya, dipahami, dan memberikan dampak bagi masyarakat.
Peserta diperkenalkan dengan konsep “6K Penyuluh Digital”, yang terdiri atas Karakter, Konteks, Komunikasi, Kompetensi Digital, Kebijaksanaan Digital, dan Kepedulian. Keenam aspek tersebut menjadi bagian penting dalam membangun pelayanan penyuluhan yang mampu memanfaatkan teknologi tanpa meninggalkan nilai dan kepedulian terhadap manusia.

Selain itu, Merling memperkenalkan kerangka “4M Penyuluh Digital”, yaitu Membaca, Memaknai, Mengomunikasikan, dan Mendampingi. Kerangka tersebut menegaskan bahwa pelayanan digital tidak berhenti pada penyampaian pesan atau produksi konten, tetapi perlu dilanjutkan dengan proses pendampingan.
“Berhenti di M3, kita baru membuat konten. Sampai di M4, kita melakukan pelayanan,” demikian penekanan dalam materi yang disampaikan.

Peserta Praktik Membuat Konten Penyuluhan
Sebagai bagian dari kegiatan PkM, peserta tidak hanya menerima materi secara teoritis. Merling memberikan kesempatan kepada peserta untuk mempraktikkan langsung pembuatan konten penyuluhan digital berdasarkan persoalan yang ditemukan dalam kehidupan masyarakat.
Dalam praktik tersebut, peserta diarahkan menggunakan formula “Hook → Masalah → Nilai → Solusi → Ajakan”. Formula ini digunakan untuk membantu peserta menyusun konten secara sistematis, mulai dari membangun perhatian, mengangkat persoalan, menyampaikan nilai atau perspektif, menawarkan solusi, hingga memberikan ajakan.

Melalui praktik tersebut, peserta belajar mengembangkan persoalan nyata menjadi pesan penyuluhan yang komunikatif dan relevan. Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang bagi peserta untuk menerapkan materi yang telah diterima ke dalam bentuk konten yang dapat digunakan dalam pelayanan penyuluhan di ruang digital.

Mendorong Penyuluh Hadir di Ruang Digital
Kegiatan PkM ini menjadi ruang berbagi pengetahuan sekaligus penguatan kapasitas bagi mahasiswa calon penyuluh dan penyuluh agama dalam memahami perubahan medan pelayanan di era digital.
Peserta diajak melihat bahwa ruang digital bukan lagi sekadar ruang tambahan, tetapi telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Karena itu, penyuluh agama perlu hadir dan mampu berkomunikasi di ruang tersebut dengan tetap membawa nilai, etika, dan kepedulian.

Pemanfaatan media sosial dan kecerdasan buatan juga menjadi bagian dari pembahasan. Teknologi dapat digunakan sebagai sarana pendukung pelayanan, tetapi tidak menggantikan empati, relasi, pendampingan, kehadiran, kebijaksanaan, dan tanggung jawab moral seorang penyuluh.
Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan semakin memahami pentingnya menghadirkan pelayanan penyuluhan di tempat masyarakat berada. Pesan tersebut dirangkum dalam pernyataan, “Jika manusia ada di sana, pelayanan kita juga harus berani hadir di sana.”

Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi IAKN Kupang melalui Pengabdian kepada Masyarakat dengan menghadirkan kepakaran dosen dalam bentuk penyuluhan, berbagi pengetahuan, penguatan kapasitas, dan praktik penerapan bagi calon maupun praktisi penyuluh agama Kristen.

Released by: Merling Messakh
Administrator: Yermi Solukh

Silakan Ikuti IAKN Kupang di Social Media