Previous Next

IAKN Kupang (Kemenag RI) — Dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang menggelar Dialog Kebangsaan pada Jumat, 14 Agustus 2026. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi dan dialog bersama tentang makna kemerdekaan, kebebasan berpikir, serta tanggung jawab perguruan tinggi dalam menjaga kehidupan akademik yang kritis dan berintegritas.

Dialog Kebangsaan mengangkat tema “Membebaskan Nalar, Membangun Peradaban: Menegakkan Kemerdekaan Akademik di IAKN Kupang demi Indonesia yang Berdaulat, Adil, dan Makmur.” Kegiatan menghadirkan Winston Neil Rondo, S.Pt. sebagai pemateri dan Merling T.L.L.C. Messakh, M.Pd. sebagai moderator.

Dalam sambutan pembukaan, Rektor IAKN Kupang, Dr. I Made Suardana, M.Th., mengajak seluruh peserta untuk menjadikan kegiatan tersebut sebagai ruang dialog yang terbuka, reflektif, dan mendorong tumbuhnya kemampuan berpikir kritis.

“Hari ini mari kita berdialog bersama,” ujar Rektor.

Dalam konteks tema dialog, Rektor menekankan pentingnya berpikir kritis dan bernalar kritis sebagai bagian dari upaya memaknai dan menjaga kemerdekaan yang telah diperjuangkan bangsa Indonesia. Menurutnya, kemerdekaan perlu terus dihidupi melalui kehidupan akademik yang memberi ruang bagi proses berpikir, pencarian pengetahuan, pengembangan ilmu, dan penyampaian gagasan secara bertanggung jawab.

Rektor juga menegaskan pentingnya menempatkan kemerdekaan akademik sebagai salah satu bagian penting dalam mengisi kemerdekaan. Perguruan tinggi, sebagai ruang pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan, memiliki tanggung jawab untuk membentuk manusia yang mampu berpikir bebas sekaligus tetap menjunjung etika, tanggung jawab, dan kepentingan bangsa.

Pesan tersebut menjadi pijakan penting dalam Dialog Kebangsaan yang kemudian mengarahkan peserta pada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah kemerdekaan yang diwariskan bangsa juga telah diwujudkan dalam keberanian untuk berpikir secara merdeka?

Dalam pemaparannya, Winston Neil Rondo, S.Pt. mengidentifikasi tiga musuh kemerdekaan yang perlu dihadapi dalam kehidupan saat ini, yaitu takut, nyaman, dan instan.

Rasa takut dapat membuat seseorang enggan bertanya, menyampaikan pendapat, maupun mengemukakan kritik. Kenyamanan dapat membuat seseorang berhenti mempertanyakan keadaan, sedangkan budaya instan berpotensi membuat proses belajar dan berpikir kehilangan kedalaman.

Karena itu, kampus memiliki posisi strategis sebagai menara pengawas peradaban. Kampus tidak cukup hanya menjadi ruang yang menghasilkan kepatuhan, tetapi harus menjadi tempat tumbuhnya gagasan, pertanyaan, perbedaan pandangan, penelitian, dan kritik yang bertanggung jawab.

Dalam kehidupan akademik, kritik tidak boleh berdiri hanya di atas keberanian. Kritik harus memiliki tiga fondasi, yaitu data, argumentasi, dan integritas.

Keberanian akademik juga diuji ketika seseorang mampu mengkritik dirinya sendiri dan kelompoknya. Kritik tidak semestinya hanya diarahkan kepada pihak yang berbeda, tetapi juga harus berani diberikan kepada kelompok sendiri ketika terdapat kekeliruan.

Dialog turut mengangkat perkembangan Artificial Intelligence (AI) dan tantangannya terhadap budaya berpikir manusia. Teknologi dapat menjadi alat bantu yang sangat kuat, tetapi penggunaannya tanpa kemampuan berpikir kritis justru dapat menimbulkan ketergantungan.

Pesan yang disampaikan dalam dialog tersebut sederhana tetapi kuat: AI yang digunakan oleh manusia yang malas berpikir dapat melahirkan ketergantungan. Karena itu, kemajuan teknologi harus berjalan seiring dengan kemampuan manusia untuk melakukan verifikasi, analisis, penalaran, serta pengambilan keputusan secara etis.

Dalam konteks pendidikan tinggi, peserta diajak untuk tidak takut menghadapi mahasiswa yang banyak bertanya, tidak takut terhadap kampus yang kritis, dan tidak takut terhadap perbedaan pikiran. Justru melalui pertanyaan, perbedaan perspektif, dan perdebatan gagasan yang sehat, kehidupan akademik dapat berkembang.

Kemerdekaan berpikir, dalam dialog tersebut, juga tidak dipahami sebagai kebebasan berbicara tanpa batas. Merdeka berpikir membutuhkan data, metodologi, etika, dan integritas.

Karena itu, sivitas akademika dituntut bukan hanya mampu menyampaikan pendapat, tetapi juga mampu membedakan fakta dan hoaks, argumentasi dan propaganda, serta pengetahuan yang berbasis penelitian dan opini yang tidak memiliki dasar.

Kampus juga didorong untuk tidak hanya mengajarkan apa yang harus dipikirkan, tetapi terutama bagaimana cara berpikir.

Pada bagian akhir dialog, ditekankan bahwa kekuasaan akan datang dan pergi, sedangkan jabatan pada akhirnya akan berakhir. Yang dapat bertahan lebih lama adalah integritas pikiran dan keberanian moral.

Moderator Merling T.L.L.C. Messakh, M.Pd., dalam menyimpulkan dialog, menyampaikan bahwa kemerdekaan tidak hanya berkaitan dengan kebebasan secara fisik, tetapi juga dengan kemerdekaan dalam berpikir dan keberanian menyampaikan kebenaran secara bertanggung jawab.

Ia menegaskan kembali tiga tantangan yang perlu dihadapi dalam menjaga kemerdekaan, yakni takut, nyaman, dan instan. Kampus harus tetap menjadi ruang untuk bertanya, berpikir kritis, berbeda pendapat, melakukan penelitian, dan menyampaikan kritik dengan data, argumentasi, serta integritas.

Moderator juga menggarisbawahi pentingnya keberanian untuk melakukan koreksi terhadap diri sendiri dan kelompok sendiri ketika terjadi kesalahan.

Sebagai refleksi penutup, disampaikan bahwa ilmu tanpa moralitas akan kehilangan arah, sementara iman tanpa keberanian moral dapat terjebak dalam kesalehan yang nyaman.

Melalui Dialog Kebangsaan ini, IAKN Kupang meneguhkan komitmennya untuk membangun budaya akademik yang merdeka, kritis, terbuka, beretika, dan berintegritas. Kemerdekaan di lingkungan perguruan tinggi diharapkan tidak berhenti pada kebebasan berbicara, tetapi diwujudkan dalam keberanian bertanya, menguji informasi, melakukan penelitian, menyampaikan kritik berbasis data, serta mempertanggungjawabkan setiap gagasan secara moral dan akademik.

Penulis: Merling Messakh
Foto: Kenneth
Administrator: Yermi Solukh

Silakan Ikuti IAKN Kupang di Social Media