Previous Next

IAKN Kupang (Kemenag RI) — Perubahan lanskap musik keagamaan di tengah derasnya arus globalisasi mendorong perguruan tinggi keagamaan untuk tidak sekadar menjadi ruang pembelajaran, tetapi juga laboratorium kebudayaan yang mampu membaca, menguji, dan merespons perkembangan zaman.

Semangat tersebut menjadi salah satu pijakan Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang melalui Fakultas Seni Keagamaan Kristen (FSKK) dalam menggelar 1st Praise Music Festival (PMF) 2026. Sebagai bagian dari persiapan, panitia PMF FSKK IAKN Kupang melakukan audiensi strategis dengan Majelis Sinode GMIT untuk membahas pelaksanaan festival sekaligus penggunaan GMIT Center sebagai lokasi utama kegiatan.

Audiensi tersebut menjadi bagian penting dari pematangan koordinasi kelembagaan, teknis, dan akademis menjelang pelaksanaan PMF yang dijadwalkan berlangsung pada 18–19 November 2026.

Delegasi IAKN Kupang dipimpin langsung oleh Dekan FSKK, Relin Yosi Huka, M.Sn. Dalam pertemuan tersebut, ia didampingi Ketua Panitia PMF Yefta Bako, M.Sn., Koordinator Seksi Acara Patce Snae, M.Sn., serta sejumlah panitia inti.

### Membaca Perubahan Musik Keagamaan

PMF tidak dirancang semata-mata sebagai ajang perlombaan musik. Festival ini ditempatkan sebagai ruang perjumpaan antara kreativitas artistik, perkembangan estetika musik, dan nilai-nilai spiritualitas Kristen.

Di tengah perubahan selera musik masyarakat yang semakin cepat, musik keagamaan menghadapi tantangan untuk tetap relevan tanpa kehilangan identitas dan substansi teologisnya. Karena itu, FSKK IAKN Kupang memandang perkembangan musik keagamaan sebagai fenomena yang perlu dikaji sekaligus dirayakan melalui ruang-ruang kreatif.

“Dinamika musik keagamaan masa kini menuntut adanya kajian ilmiah dan evaluasi estetis yang berkelanjutan. Kampus tidak menutup mata terhadap pembaruan zaman yang terus berkembang pesat dan terus melibatkan diri dalam perkembangan tersebut,” ujar Dekan FSKK.

Menurutnya, PMF menjadi salah satu cara FSKK IAKN Kupang menghadirkan diskursus tentang musik keagamaan modern yang responsif terhadap perkembangan zaman, namun tetap berakar pada nilai spiritual dan prinsip-prinsip Alkitabiah.

Dengan pendekatan tersebut, musik liturgis tidak ditempatkan sebagai ekspresi yang statis, melainkan sebagai bagian dari kebudayaan yang terus bergerak dan berdialog dengan perubahan sosial. Idiom-idiom musik modern dapat dikembangkan sepanjang tidak menghilangkan makna, nilai, dan tujuan spiritual yang menjadi fondasinya.

### Sinode GMIT Sambut Positif

Gagasan tersebut mendapat sambutan positif dari pihak Majelis Sinode GMIT. Dukungan itu sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih luas antara institusi pendidikan tinggi dan lembaga gerejawi dalam pengembangan seni keagamaan di Nusa Tenggara Timur.

Sebagai bentuk konkret dukungan, fasilitas GMIT Center akan dimanfaatkan sebagai venue utama penyelenggaraan PMF 2026. Penggunaan fasilitas tersebut menjadi bagian penting dari sinergi kelembagaan yang dibangun dalam penyelenggaraan festival.

Kolaborasi ini juga memperlihatkan bahwa pengembangan musik keagamaan tidak hanya menjadi tanggung jawab komunitas gereja, tetapi dapat menjadi ruang perjumpaan antara akademisi, seniman, gereja, jemaat, dan generasi muda.

Bagi IAKN Kupang, kerja sama tersebut sekaligus memperkuat implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat dan pengembangan ilmu pengetahuan serta seni yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

### Ruang Kreativitas Jemaat dan Generasi Muda

PMF 2026 dirancang sebagai wadah bagi jemaat, anak-anak, pemuda, dan masyarakat untuk mengekspresikan kreativitas musikal melalui sejumlah kategori kompetisi dan pertunjukan.

Kategori yang dipersiapkan antara lain vocal group, paduan suara anak, paduan suara dewasa campuran, paduan suara SD, serta paduan suara perempuan.

Kehadiran berbagai kategori tersebut diharapkan dapat membuka ruang partisipasi yang lebih luas sekaligus mempertemukan beragam generasi dalam satu panggung musik keagamaan.

Lebih dari sekadar kompetisi, PMF diharapkan menjadi ruang apresiasi, pembelajaran, dan pertukaran pengalaman musikal. Festival ini juga menjadi kesempatan bagi FSKK IAKN Kupang untuk memperkenalkan pendekatan akademis terhadap seni keagamaan kepada masyarakat secara lebih luas.

Melalui PMF 2026, FSKK IAKN Kupang menegaskan komitmennya untuk terus membangun jejaring kemitraan dengan institusi pendidikan, gereja, dan berbagai komunitas keagamaan di NTT.

Kolaborasi dengan Sinode GMIT dalam penyelenggaraan festival ini menjadi salah satu langkah konkret untuk mempertemukan kampus, gereja, seni, dan masyarakat dalam satu ruang kreatif.

Dengan demikian, PMF tidak berhenti pada perhelatan dua hari pada November mendatang. Festival ini diharapkan menjadi titik awal bagi pengembangan ekosistem musik keagamaan yang lebih kreatif, reflektif, akademis, dan tetap berakar kuat pada nilai-nilai iman.

Penulis: Imanuel Letma
Editor : Merling Messakh
Administrator: Yermi Solukh

Silakan Ikuti IAKN Kupang di Social Media