Tag Archives: dan Abednego di Ibadah Awal Pekan IAKN Kupang

Melangkah dengan Bijak di Tahun Baru: Inspirasi dari Kisah Sadrakh, Mesakh, dan Abednego di Ibadah Awal Pekan IAKN Kupang

IAKN Kupang (Kemenag) – – – Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang menggelar ibadah awal pekan Pada Senin (08/01/2024) yang dilayani oleh Bina Rohani Kampus (Binropus) dengan tema menarik, “Melangkah di Tahun Baru dengan Motivasi Sadrakh, Mesakh, dan Abednego.” Ibadah ini menjadi momen yang penuh makna bagi civitas akademika IAKN Kupang, di mana Firman Tuhan diambil dari Daniel 3: 1-30.

Para pelayannya adalah Liturgos : Maya. Djawa, S.Th, M.Pd.K, Ph.D., Singer: Merling Messakh, M.Pd dan Pemain musik oleh Yefta Bako, M.Sn. Firman Tuhan disampaikan oleh Dr. Daud S. Luji, M.Pd, yang membawa pesan motivasi dari kisah Sadrakh, Mesakh, dan Abednego.

Dr. Daud Luji memulai kotbahnya dengan menggali ayat 3-4 dari Daniel 3, menjelaskan bahwa “Orang-orang Muda” dalam teks tersebut adalah individu terpandang, berpotensi, keturunan raja, dan cakap dalam bekerja. Dalam konteks ini, ia menyoroti 5 hal yang dapat diambil sebagai motivasi di tahun 2024:

Pertama, Bijak dalam Naturalisasi:
Sadrakh, Mesakh, dan Abednego mampu menghadapi naturalisasi dengan bijak. Meskipun nama mereka diganti, mereka tetap tidak terpengaruh oleh gaya hidup Babilonia yang diharapkan.

Kedua, Iman yang Tidak Tergoyahkan:
Mereka memiliki iman di atas rata-rata dan menolak menyembah Allah lain, bahkan saat dipaksa (Ayat 17-18). Sadrakh, Mesakh, dan Abednego percaya pada kuasa Tuhan tanpa memaksakan kehendak-Nya, menjaga iman mereka meskipun dihadapkan pada situasi sulit.

Ketiga, Keberanian dan Keteguhan:
Orang muda tersebut tidak hanya pemberani dalam menyampaikan keyakinan mereka, tetapi juga teguh di mata-mata raja. Mereka dengan tegas menolak menyembah patung raja tanpa membicarakannya di belakang punggungnya.

Keempat, Kemuliaan Allah melalui Hidup Mereka:
Hidup Sadrakh, Mesakh, dan Abednego menjadi sarana untuk menyatakan kemuliaan Allah. Meskipun melewati cobaan, mereka menjadi alat untuk memuliakan Tuhan, sehingga raja mengagumi kebesaran Tuhan dari perilaku mereka.

kelima, Kesuksesan Jasmani dan Rohani:
Akhirnya, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego diberikan kedudukan tinggi di Babel, mencapai kesuksesan jasmani. Namun, yang lebih penting, mereka juga mencapai kesuksesan rohani dengan mempertahankan iman mereka dan menjadi berkenan di hadapan Tuhan dan manusia.

Dalam penutup kotbahnya, Dr. Daud Luji memberikan refleksi, “Ada banyak orang percaya Tuhan, namun belum tentu dipercayai Tuhan,” mengajak seluruh civitas akademika untuk merenung dan mengambil inspirasi dari kisah Sadrakh, Mesakh, dan Abednego dalam menjalani kehidupan sehari-hari.***


Penulis : Merling Messakh
Administrator: Melki Saekoko

[iaknkupang.ac.id]